Nominative Use atau Pelanggaran Trademark? Ini Garis yang Sering Kita Lewati Tanpa Sadar
June 30, 2026 · By DomainScope
Ada domain yang dijual di lelang dengan nama mirip brand besar — sebut saja "nikerunningreviews.com" atau "tokopediapromo.id". Sebagian pembelinya yakin itu aman karena mereka "cuma mau bikin review" atau "kontennya memang soal brand itu". Keyakinan ini yang sering berakhir dengan UDRP filing atau surat cease & desist.
Soalnya nominative use — penggunaan nama brand orang lain secara sah — punya syarat yang ketat. Dan kebanyakan orang tidak benar-benar memahami syaratnya sebelum registrasi domain.
Apa yang Dimaksud Nominative Use, Secara Praktis
Nominative use adalah doktrin hukum yang mengizinkan kamu menyebut nama brand orang lain untuk merujuk pada produk atau layanan mereka — bukan untuk mengklaim afiliasi. Contoh paling mudah: jurnalis yang menulis "iPhone terbaru Apple lebih lambat dari Galaxy S25" tidak melanggar trademark Apple. Blogger yang bikin artikel "10 Plugin WordPress Terbaik untuk SEO" tidak melanggar trademark WordPress.
Tapi konteks berubah drastis ketika nama brand masuk ke domain.
Pengadilan AS — khususnya lewat kasus New Kids on the Block v. News America Publishing — menetapkan tiga syarat nominative use yang berlaku luas:
- Produk atau layanan yang dimaksud tidak mudah diidentifikasi tanpa menyebut trademark itu.
- Hanya bagian dari trademark yang digunakan seperlunya — tidak lebih.
- Tidak ada kesan bahwa brand tersebut mensponsori, mendukung, atau berafiliasi dengan kamu.
Syarat ketiga yang paling sering dilanggar. Dan domain adalah tempat pertama orang menilai afiliasi.
Mengapa Domain Adalah Medan Paling Rawan
Kalau kamu nulis artikel berjudul "Review Jujur Shopee Pay Later" di blog kamu, itu nominative use yang sangat bisa dipertahankan. Tapi kalau domain kamu adalah "shopeepaylaterreview.com" — situasinya berbeda.
Domain menciptakan kesan kepemilikan atau afiliasi yang jauh lebih kuat dari sekadar teks dalam konten. Pengguna melihat URL sebelum membaca satu kata pun di halaman kamu. Kalau URL-nya "tokopediaseller.com", otak mereka langsung mengasosiasikan domain itu dengan Tokopedia — bukan dengan reviewer independen.
Ini yang membuat banyak expired domain yang tampak "bernilai" sebenarnya menyimpan bom waktu. Domain dengan nama brand tertanam di dalamnya bisa punya backlink bagus, traffic history yang solid, bahkan DA tinggi — tapi begitu kamu mengaktifkannya untuk bisnis, kamu langsung dalam posisi sulit secara hukum.
Saya pernah lihat domain dengan traffic Wayback Machine yang konsisten, backlink dari 80+ referring domain, anchor text bersih — tapi nama domainnya mengandung trademark terdaftar. Pembelinya baru sadar masalah setelah dua bulan ketika dapat UDRP complaint. Semua effort SEO hangus.
Tiga Tanda Kamu Sudah Melewati Garis
Pertama: nama brand ada di domain, bukan hanya di konten. "Review-Gojek.com" berbeda dengan blog yang punya artikel tentang Gojek. Yang pertama bisa langsung digugat; yang kedua dilindungi nominative use.
Kedua: kamu mengambil keuntungan komersial dari kebingungan konsumen. Ini yang disebut initial interest confusion — orang mengklik domain kamu karena mengira itu situs resmi atau afiliasi resmi brand tersebut. Kalau model bisnis kamu bergantung pada kebingungan itu, kamu sudah jauh melewati batas nominative use.
Ketiga: kamu mendaftarkan atau membeli domain itu karena nilai brand-nya, bukan karena nilai kontennya. Ini adalah definisi textbook dari cybersquatting, dan Anticybersquatting Consumer Protection Act (ACPA) di AS — maupun kebijakan UDRP ICANN — sangat jelas soal ini.
Yang Benar-benar Aman, Secara Konkret
Fansite dengan nama seperti "fans-of-nike.com" — dengan kata separator yang jelas — secara historis lebih mudah dipertahankan daripada "nikefans.com". Konten kritik atau review independen di domain yang tidak mengandung nama brand adalah posisi paling aman.
Kalau kamu agency atau domain flipper yang rutin lihat expired domain dengan nama brand tertanam, ada satu kebiasaan yang wajib dibangun: cek DMCA record dan histori domain sebelum beli, bukan setelah. Banyak domain sudah pernah dapat DMCA takedown terkait trademark — dan itu jarang muncul di surface-level check.
Di DomainScope, salah satu sinyal yang kami analisis adalah DMCA record dan Wayback Machine history justru untuk menangkap pola ini — domain yang pernah dipakai untuk konten yang menempel pada brand tertentu, atau yang punya anchor text profile yang penuh nama brand pihak ketiga dengan cara yang mencurigakan. Bukan cuma soal spam score atau DA, tapi soal bagaimana domain itu pernah digunakan.
Takeaway yang Bisa Langsung Kamu Pakai
Sebelum membeli atau mendaftarkan domain apapun yang mengandung nama brand — tanya satu pertanyaan ini: apakah orang yang melihat URL ini akan mengira ini situs resmi atau afiliasi brand tersebut?
Kalau jawabannya "mungkin iya" atau "tergantung orangnya" — itu bukan nominative use. Itu domain yang bisa dicabut dari tangan kamu kapan saja, tanpa kompensasi, dengan seluruh backlink dan content investment yang sudah kamu bangun ikut hilang bersamanya.
Nominative use adalah perlindungan untuk ekspresi — bukan lisensi untuk menunggangi ekuitas brand orang lain.
Artikel terkait
- Beli Domain Mirip Brand Besar: Antara Cerdik dan Melanggar
- Domain Mengandung Nama Brand (Facebook, Google, Amazon): Bahayanya
- Typosquatting: Kenapa Domain Mirip TikTok/Netflix Berisiko
- Pasar Expired Domain Indonesia: Brand Lokal & Peluangnya
- Risiko Hukum Beli Expired Domain yang Jarang Dibahas
Mau cek domain incaranmu sekarang? Analisa gratis di DomainScope →